Hama Penyakit

13 03 2008

HAMA/PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN KAKAO DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA

Usaha pengembangan kakao di Lampung sering mengalami berbagai hambatan terutama oleh hama dan penyakit. Salah satu kendala utamanya adalah adanya beberapa jenis hama /penyakit yang sering menyerang tanaman kakao. Jenis hama/penyakit yang sering menyerang tanaman kakao di Lampung antara lain: (a) hama penggerek buah kakao; (b) kepik penghisap buah kakao, Helopeltis antonii Sign; dan (c) penyakit busuk buah, Phytophthora palmivora.

GEJALA SERANGAN

a. Penggerek buah kakao (PBK)
Conopomorpha cramerella
Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi.

b. Kepik penghisap buah (Helopeltis spp)
Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas.

c. Penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora)
Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab.

METODE PENGENDALIAN
Usaha pengendalian hama/penyakit tersebut terutama dilakukan dengan sistem PHT (pengendalian hama terpadu).
• Hama penggerek buah.
Pengendaliannya dilakukan dengan : (1) karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK; 2) pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen; (3) mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam; (4) penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.; (5) cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.

• Hama helopeltis
Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis <15 % sedangkan bila serangan >15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh. Selain itu hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula.

• Penyakit busuk buah.
Dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu: (1) sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm; (2) kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan lakukan pemangkasan pada tanaman-nya sehingga kelembaban di dalam kebun akan turun; (3) cara kimia, yaitu menyemprot buah dengan fungisida seperti :Sandoz, cupravit Cobox, dll. Penyemprotan dilakukan dengan frekuensi 2 minggu sekali; (4) penggunaan klon tahan hama/penyakit seperti: klon DRC 16, Sca 6,ICS 6 dan hibrida DR1.





CACAO, FOOD OF THE GODS

13 03 2008

Cacao (Theobroma cacao)

Cacao, a small evergreen tree native to the lower eastern slope of the Andes in South America, is the source of cocoa and chocolate. Cacao grows in partial shade at very low elevations between 20 degrees north and south latitude, where the average temperature is 25.5 degrees C (this species tolerates 15 to 35 degrees C), and the plants receive one to more than three meters of annual precipitation. Cacao can also be grown with irrigation.

Theobroma is Greek for “the food of the gods,” and the common names are taken from the Aztec and Mayan languages. Aztecs considered cacao to be man’s inheritance from Quetzalcoatl, the god of the air. Cacao seeds were made into a drink with the addition of maize (Zea) and vanilla (Vanilla) or a sauce (mole) with maize and chili peppers (Capsicum).

On his fourth voyage, Columbus intercepted a canoe with cacao, but it was Cortez who observed its use and carried back beans (seeds) to Spain, where it rapidly became a drink for the wealthy (cocoa) by combining cacao powder (bitter), maize, and vanilla with sugar. The Spaniards introduced cacao to Trinidad and Venezuela, but their monopoly was broken by the Dutch.

Cacao was cultivated eventually in western Africa, and in 1878-79 introduced on the mainland by free Portuguese laborers. A fellow named Cadbury (sound familiar?), a Quaker, helped the free laborers get established. Most world production now comes from Nigeria, Ghana, Ivory Coast, and Cameroon. However, swollen shoot disease, a virus that kills the trees within several years, is now a serious threat to the West African industry.

The flowers and subsequent pods are formed on perennial “cushions” along the trunk and lower branches20-50 beans per pod. The pod, a capsule, grows for four month. The fruit is harvested then and broken open on a blunt object, so the seeds can be removed. Seeds are fermented for a week in a sweat box, turning from ivory to the characteristic purple-brown color. Fermentation not only produces the proper flavor and color, but also kills the embryo (prevents germination), loosens the seed coat, and removes the mucilage (sweatens, pectin and glucose filler in the fruit). After fermentation, the beans are dried and stored, to be shipped to user countries. (cauliflory). There are many pods per tree and

Cocoa is made from the seed powder after the fat (cocoa butter) is removed, whereas cocoa butter is added to make chocolate. Sugar and vanilla are added in preparations to offset the bitterness of the alkaloids, caffeine and theobromine (and others), which constitute about 3% by weight of the seeds. Nearly half of the seed weight is cocoa butter, and increasing the quantity of cocoa to chocolate is what determines how gooey and rich it is.

Certainly chocolate is now one of the most widely recognized of all foods around the world. The first chocolate mill in the United States was in Dorchester, Massachusetts, in 1765. The mill was purchased in 1780 by Dr. James Baker, becoming Walter Baker and Company and makers of the product still called Baker’s Chocolate (and you thought that it had to do with baking!). Milk chocolate, the most common present-day form of chocolate candy, was first developed in 1876 by a Swiss candymaker named Daniel Peter, who blended the chocolate “liquor” with condensed milk. Shortly after in the United States, the industry was to be greatly expanded by Milton S. Hershey. Hershey began a candymaking business in Lancaster, Pennsylvania (1886). Hershey saw a German chocolate-making machine at the 1893 Chicago International Exposition and purchased one to coat his caramels. The Hershey Chocolate Company was opened in January, 1894, and the next month began marketing milk chocolate bars, along with breakfast cocoa, baking chocolate, and other forms of sweet chocolate. Hershey was so successful with the milk chocolate bars that he built a new factory in dairy country of Pennsylvania so his operation would be close to large supplies of fresh milk, and that operation opened in 1905 for mass production of milk chocolate. Hershey’s company grew, so that in 1995 it is called Hershey Chocolate North America, a division of Hershey Food Corporation, with annual chocolate sales of more than two billion dollars. In addition to the bars, with or without nuts, and Kisses (first manufactured on 1 July, 1907), now with and without nuts also, the company also produces Reese’s, Cadbury’s, Peter Paul, Twizzlers, and Ludon’s, and they also distribute Kit Kat





Arti “BLECKMEN”

13 03 2008

BLECKMEN adalah seorang manusia yang hidup dalam keluarga yang berkecukupan.Tapi dia hanya hidup dengan satu orang Ibu N 2 orang saudara.Meskipun demikian Bleckmen selalu tabah dalam menjalani hidupnya.Anak yang mempunyai julukan Bleckmen ini selalu gagal dalam masalah percintaan,meskipun dia tidak terlalu tampan tapi dia punya wajah yang cukup manis.Bleckmen ditinggal ayahnya semenjak umur 17th.Bleckmen selalu melaksanakan ibadah dengan tertib walaupun sakit sekalipun.Dia sekarang sedang berusaha membuat orang tuanya bahagia,yaitu melalui belajar di salah satu perguruan tinggi yang ada di Indonesia.