RENUNGAN BUAT KITA SEMUA

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 208)

Selamat pagi dunia…

Selamat pagi dunia…

Aku bangun di pagi ini, menemukan lingkaran badai menyelimut di atas badanku. Apakah aku tertidur dengan selimut badai tadi malam? Ah, rasanya tidak hanya tadi malam… sebelum tidur pun aku sudah disetubuhi badai. Kemarin juga sudah… kemarinnya lagi (kemarin lusa), pekan kemarin… dan entah sejak kapan aku sudah lupa. Mungkin sejak pertama kali aku sukses ‘meng-eak’ saat keluar dari rahim ibu ku. So, sambutlah, ini memang dunia badai…

Tapi sekalipun pada badai, ada harap yang aku titipkan. Aku berharap badai suatu saat mau merubah jasadnya menjadi kepompong sutra. Dan pada saat yang tepat, aku akan merobek kepompong itu dan keluar beserta sayap ku yang anggun. Halaaah… terlalu feminim. Aku kan cowok.

Jadi begini saja, aku berharap pada badai itu, mau menjadi alat fitness yang baik untuk melatih otot-ototku. Setiap ototku bertambah besar, maka bertambah kuatlah badai itu. Menyesuaikan. Pada akhirnya aku akan menjadi seorang yang perkasa di tengah badai. Huahahahaha…..

Pagi dunia……

Hah…. Ada cerita yang harus terus terajut biarpun jari telah letih. Menjalin beberapa benang aneka warna sekaligus, tercampur darah yang mengalir dari sela jari yang kadang tertusuk jarum. Pada akhirnya, rajutan itu akan menjadi kafanku sendiri. Kafanku sendiri!!!

Kalau indah, maka biarlah orang lain yang masih hidup mencontoh rajutan ku apa adanya. Asal jangan sampai membuat orang berpaling seraya berkata, “kain buruk seperti itu hanya cocok buat lap pel, bukan buat jasad manusia…”

Pagi dunia….

Pagi ini ada seonggok asa bertempur dengan sekarung duka. Kita lihat siapa yang menang!!!

Taubat

Di sudut ruangan
Ku renung hikmah Ramadhan
Adakah ini bulan kesempatan
‘tuk pinta ampunan

kujajaki sepi
bersama renungan ayat suci
dalam keagungan asma-Nya
bergetar jiwa yang berlumur dosa

kiranya ku pun bisa mengingatMu Tuhan
di lautan dosa
di padang nestapa
di benua hina

Tuhanku bantulah aku melihat suci
Mataku nanar di silau dosa kini
Dengan apa aku bisa bersihkan diri
Dari lumpur berceceran di tubuh ini

Ku ingin bertaubat
Dan bersihkan hasrat

Hakikat Bunga Itu

Tuhan
Pada hadapanku
Terhampar rumpun-rumpun bunga
Bersama dayunya
Angin menerbangkan aroma merah jambunya padaku
Di celah tatapanku saat ku memegang sebuah sapu

Tuhan
Hampir terlepas sapu ini
Dan ku petik sekuntum
Karena pada masa ini
Aku berpijak pada asap
Menghirup warni gemerlap
Hingga lidahku gagap
Menyebut nama-Mu

Tuhan
Tersadar aku
Bunga itu hanya akan menghiasi kuburku.


Dalam Kurungan Sejuta Nuansa Dosa

Dalam kurungan sejuta nuansa dosa
Aku tak mengenal diriku lagi
Bahkan setelah pada puncak keindahan
Ku kan hadir lagi
Di nuansa dosa ini kembali
Aku tak berdaya
Kecuali menagih janjiMu Ilahi
Membuka pinta taman-Mu
Bercumbu lagi di bukit keindahan

Di kurungan sejuta nuansa dosa
Aku tak mengenal diriku lagi
Hanya Kau yang masih tahu
Bentukku itulah…
Dan jangan berlalu setelah tahu
Karena yang kuharapkan
sempurnaNya cahyaMu
melambungkanku dari keterpurukan

Di kurungan sejuta nuansa dosa
Ku hampir menjerat leherku
Hanya saja adalah nyata
Putik-putik rahmat-MU
Karena itu
Jangan kembalikan hamba
Kepada kurungan sejuta nuansa dosa
Setelah kita bercumbu
Di puncak keindahan

(Ed) By. Rizki Yudha @ cakep.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: